Kawan-kawan,
aku punya berita yang sangat seru. Sebenarnya dalam beberapa minggu terakhir ini aku telah diundangg Miles Film untuk melihat preview film laskar pelangi, namun dengan berbagai alasan aku selalu menolak, karena aku ingi melihat film Laskar Pelangi secara utuh (usai mixing dan sebagainya). Dan akhirnya 22 September 2008 di Planet Hollywood Jakarta aku tonton film Laskar pelangi dalam acara press, cast&crew screening.
Terus terang sebagai penulis Laskar pelangi, setahun ini aku deg-degan dengan tekanan dari pembaca dan eksepktasi yang begitu besar dari kawan-kawan. Belum dibuatpun film laskar pelangi dibicarakan dimana-man. Demikianlah proses setahun ini baik bagiku sebagai novelis, Riri Reza, dan Mira Lesmana . Kemudian aku pun masuk studio satu. Panitia yang baik miles film dan mizan production telah menyediakan tempat duduk VIP untukku, di deretan itu sengaja aku duduk sendirian tanpa siapapun di samping kanan kiri. Waktu Layar mulai-kelap-kelip akhirnya aku menyaksikan Film Laskar Pelangi untuk pertama kalinya.
Film dimulai dengan perjalanan ikal dewasa ke kampungku. Dan taukah diirimu kawan, film itu berlangsung dua menit, dan air mata telah tergenang di pelupukku. Lalu kusaksikan frame demi frame, dengan perasaan yang tak kugambarkan dengan kata-kata. Aku larut, tenggelam, dan terombang-ambing cerita Laskar Pelangi dalam gambar-gambar yang sungguh menakjubkan. Aku adalah seorang penonton film yang akut. Aku memiliki koleksi lebih dari 2000 judul film, namun baru kali ini aku sesegukan, dan merasa sangat indah ketika menonton sebuah film. Kukatakan padamu kawan, jika engkau menemukan keindahan di setiap lembar novel Laskar Pelangi , engkau akan menemukan keindahan dalam setiap perpindahan gambar dalam film Laskar Pelangi. Bukan karena film ini diadaptasi dari novelku. Namun sejujurnya kukatakan padamu kawan bahwa film Laskar pelangi adalah salah satu dari film yang paling mempesona yang pernah kusaksikan dalam hidupmu
Kawanmu selalu,
Andrea Hirata

www.sastrabelitong.mulltiply.com
K!ck Andy: Laskar Pelangi
September 20, 2007 <!–Adityo Ananta–>
Beberapa waktu sempat mendaftar menjadi penonton K!ck Andy di studio, namun tidak undangan itu tidak kunjung datang. Rabu kemarin, melalui teman yang mendapat undangan, akhirnya ‘mimpi’ tidak penting itu jadi kenyataan.
Lalu, apa yang membuatnya jadi istimewa? Topik kali ini adalah “Laskar Pelangi (LP)”, tetralogi karya Andrea Hirata. Nah yang menarik bagiku adalah, baru 2 hari sebelumnya ku menyelesaikan buku ke-3 nya, eh tiba-tiba mendapat undangan ini. Kebetulan yang menarik
.
Sayang, pengalaman pertama menonton langsung di studio sedikit mengecewakan. Persiapan mereka sepertinya kurang. Aneh, karena bukankah ini sudah menjadi acara reguler? Pertama, syuting ternyata ‘ngaret’ 1 jam. Katanya sih karena studio masih dipakai acara lain. Lalu, jumlah peserta pun lebih banyak dari biasanya, dari normal 150 orang menjadi 250 orang tapi tidak dijelaskan mengapa. Mungkin karena tidak terbiasa menghadapi jumlah sebanyak itu, mereka agak kerepotan. Belum lagi soal clip-on yang lupa dicek dan ternyata bermasalah. Sepertinya selepas acara banyak yang akan kena omel nih ^-^.
Agak kecewa juga dengan pemilihan pembaca yang terinspirasi dengan LP yang menjadi tamu kali ini. Sepertinya kok kurang berkesan untuk cerita sedalam LP. Kecuali untuk surat dari seorang ibu di Bandung tentang bagaimana anaknya berubah karena LP. Sayang sang ibu tidak bisa dihubungi.
Namun tim K!ck Andy ternyata cukup ‘niat’ juga untuk mengumpulkan bahan. Mereka ke pulau Belitung untuk menemui anggota LP yang lain, tapi sayang tidak diberi caption tentang nama mereka. Kecuali beberapa, yang lain sulit dikenali. Dan tentu saja yang paling spesial: guru mereka Ibu Muslimah.

Andrea sendiri sedikit berbeda dari gambaranku. Dari gaya menulisnya kupikir ia memiliki suara yang ‘kocak’, tapi ternyata suaranya dalam dengan logat melayu yang kental. Entah kenapa ku menangkap suaranya seperti suara orang yang sudah mulai lelah dengan hidupnya, padahal ia baru 33 tahun. Hmm, mungkin ia cuma lelah, tak tahulah.
Syuting selesai pukul 22.30. Dan seperti biasa ada pembagian buku gratis. Walau sudah punya lengkap, tapi ternyata ada gunanya juga. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ku ikut berebut meminta tanda tangan ‘artis’ ^-^. Lumayanlah dapat 3 tanda tangan: Andrea, Ibu Mus, dan Syahdan yang ikut hadir di studio. Sebetulnya kurang satu lagi, tanda tangan Andi Noya
. Tapi minta tanda tangan di mana? Tidak pas kalau dia ikut tanda tangan di buku LP.
***

Bicara soal tetralogi LP, kuakui ini merupakan karya yang inspiratif. Novel yang kupilih asal ketika diserang kebosanan ini, ternyata berhasil memikatku dengan sukses. Novel Indonesia pertama setelah sekian tahun yang bermutu tinggi. Tidak sia-sia membacanya karena ini tidak sekedar cerita.
Tetralogi ini sebetulnya adalah kisah tentang Andrea sendiri. Tapi ia dapat menuliskannya dengan indah. Mungkin kita semua pun memiliki pengalaman yang tak kalah indahnya, namun kita tidak bisa melihatnya.
Dan seperti yang Andrea bilang, ini adalah kisah orang Indonesia kebanyakan, maka wajar bila banyak yang menemukan kesamaan keadaan dengan dengan salah satu tokoh di cerita.
~ kapan ya buku ke-4 terbit?

JAKARTA, SABTU – Dua belas anak yang turut membintangi film Laskar Pelangi, Sabtu (27/9) ini akan kembali pulang ke kampung masing-masing. Ada yang pulang ke Tanjungpandan, Manggar, dan Desa Gantong di Pulau Belitong.
Selama sepekan berada di Jakarta, mereka sudah sempat melakukan promo filmnya ke Bandung dan Yogyakarta. Di Yogya mereka bertemu dengan Sri Sultan Hamengkubuwono X. Mereka juga sempat jalan-jalan ke Puncak, Bogor.
Ke-12 anak tersebut adalah Zul Pani (pemeran Ikal), Ferdian (Lintang), Verrys Yamarno (Mahar), Yogi Nugraha (Kucai), M Syukur Ramadan (Syahdan), Suhendri (A Kiong), Febriansyah (Samson/Borek), Jeffry Yanuar (Harun), Suharyadi Syah Ramadhan (Trapani), Dewi Ratih Ayu Safitri (Sahara), Marchella E Jolla Kondo (Florina), dan Levina (A Ling).
Saat berjumpa dengan penggemar buku dan film Laskar Pelangi dalam ajang Meet and Greet Laskar Pelangi di Blitz Cafe, Grand Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jumat (26/9) sore, mereka mengaku rindu kampung halamannya.
”Aku kangen orang rumah,” ucap Dewi Ratih sendu. Yogi nyeletuk, ”Aku juga rindu rumah.”
Ketika ditanya, lebih enak mana, tinggal di Jakarta atau Belitong, mereka serempak menjawab, ”Belitong, dan tetap mau jadi Laskar Pelangi.” Ferdian pun berucap, ”Aku enggak betah di Jakarta, macet di mana-mana.”
Bagi anak-anak ini, menjadi terkenal bukan suatu hal yang ”wah” dan patut diagung-agungkan. Mereka tak merasa khawatir akan kembali menjadi anak biasa. ”Kita kan memang bukan siapa-siapa,” tutur Verrys sambil bersenandung.
”Takkan ada yang berubah dari aku, karena Lintang hanya peran di film,” ucap Ferdian. ”Aku enggak takut tak dikenal lagi. Aku bukan artis, tapi aktor,” timpal Yogi.
”Yang pasti, aku senang bisa bertemu dan berkenalan dengan Mbak Mira dan Mas Riri yang baik hati, dan bisa main film mewakili orang Belitong,” papar Zul Pani yang sudah terlihat kelelahan saat diwawancarai. Ke-12 anak ini pengin tetap berteman, meski kampung mereka berjauhan. ”Tetap main ya,” ucap Suhendri.
”Buat mereka, main film ini just play. Syukurlah. Mungkin, kalau mereka anak Jakarta, orangtuanya pasti sudah mengeksploitasi mereka, sehingga tak ada waktu bermain,” kata pemeran Pak Harfan, Ikranagara. Aktor senior ini dalam waktu dekat ini akan kembali ke rumahnya di Amerika Serikat, karena tengah mempersiapkan pentas teater di Negeri Paman Sam tersebut.
Riri mengungkapkan, Miles Films berencana menggelar layar tancep di Pulau Belitong, karena tak ada bioskop di sana. ”Rencananya layar tancep itu digelar pas peluncuran film ini di sana, mungkin setelah Lebaran,” kata Riri
Sore kemarin, para penggemar sangat antusias bertanya kepada produser Mira Lesmana, sutradara Riri Riza, penulis skenario Salman Aristo, pemeran Ikal dewasa, yakni Lukman Sardi, dan 12 anak bintang Laskar Pelangi. Penggemar juga bisa berkenalan, foto bareng, minta tanda tangan, dan berbuka puasa bareng para pendukung film.
Panca, siswa kelas 2 SMAN 13, misalnya, senang karena kehadirannya di Meet & Greet itu tidak sia-sia. Selain berkenalan dengan para pemain, dia mendapat hadiah buku Laskar Pelangi, karena bisa menyebutkan peran yang dimainkan 12 anak asli Belitong itu. (wartakota/yus)


